kanker-paru

Kanker Paru


Kanker Paru

Kanker paru-paru merupakan kondisi ketika sel ganas (kanker) terbentuk di paru-paru. Kanker paru sering diartikan sebagai penyakit keganasan di paru. Berdasarkan WHO, kanker paru adalah jenis kanker yang paling banyak ditemukan di laki-laki dan terbanyak kelima di wanita. Selain itu, kanker paru merupakan penyebab kematian terbanyak pada laki-laki dan kedua pada perempuan. 

Cara mengetahui apakah terdapat kanker paru-paru atau tidak adalah dengan skrining. Skrining dilakukan pada pasien risiko tinggi yaitu pasien usia 40 tahun dengan riwayat merokok ≥30 tahun dan telah berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan atau pasien ≥50 tahun dengan riwayat merokok ≥20 tahun dan adanya minimal satu faktor risiko lainnya dengan pemeriksaan low-dose CT scan. Kanker paru juga dapat dipastikan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan patologi anatomi.

Gejala klinis kanker paru tidak khas, tetapi anamnesis (komunikasi antara dokter dan pasien untuk mengetahui keluhan pasien) seperti batuk, sesak napas, atau nyeri di dada (gejala respirasi) yang tidak kunjung sembuh. Gejala klinis tersebut masuk pada “kelompok risiko” yang harus ditindaklanjuti dengan prosedur diagnosis kanker paru.

Prosedur untuk mendiagnosa kanker paru dimulai dengan foto toraks AP/lateral pada pasien yang dicurigai terkena kanker paru. CT scan toraks diperluas hingga kelenjar adrenal untuk menilai kemungkinan metastasis hingga daerah tersebut, sebagai evaluasi lanjutan.

Prosedur utama untuk menetapkan diagnosis kanker paru adalah dengan bronkoskopi. Spesimen hasil bronkoskopi digunakan untuk pemeriksaan sitologi dan histologi. Metode untuk mendapatkan hasil sitologi antara lain :

  • Metode fine needle aspiration biopsy (FNAB) sebagai metode utama. 
  • Pemeriksaan thransthoracal biopsy (TTB) yang tidak hanya untuk pemeriksaan sitologi namun juga histopatologi
  • Jika hasil negatif namun masih ada kecurigaan keganasan, maka CT scan toraks dianjurkan untuk dilakukan kembali.

Kanker paru ada 2 jenis utama yaitu kanker paru bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer-NSCLC) dan Kanker Paru Sel Kecil (Small Cell Lung Cancer-SCLC). NSCLC adalah tipe yang ada pada sebagian besar kasus kanker paru dan bersifat kurang agresif. Pasien dengan tipe kanker paru NSCLC pada stadium awal atau kankernya belum menyebar keluar dari paru, memiliki 63% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Sedangkan untuk kanker paru NSCLC yang sudah menyebar ke daerah sekitar, memiliki 35% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Terakhir, jika sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh yang jauh dari paru, maka kemungkinan hidup lebih dari 5 tahun adalah 7%.

Jenis selain Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) yaitu Small Cell Lung Cancer (SCLC). Small Cell Lung Cancer (SCLC) adalah bentuk agresif kanker paru, karena penyebaran kanker yang cepat ke bagian tubuh lainnya. Pasien dengan tipe kanker paru SCLC yang kankernya belum menyebar keluar paru, memiliki 27% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Sedangkan untuk kanker paru SCLC yang sudah menyebar ke daerah sekitar, memiliki 16% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Terakhir, jika sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh yang jauh dari paru maka kemungkinan hidup lebih dari 5 tahun adalah 3%.  Penanganan NSCLC dan SCLC yaitu berupa kemoterapi, namun untuk NSCLC tidak hanya kemoterapi tetapi dapat juga dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pembedahan dan terapi radiasi.


Faktor-faktor risiko selain rokok adalah paparan radiasi, paparan terhadap bahan kimia karsinogenik, riwayat kanker pada pasien atau keluarga pasien, dan riwayat penyakit paru seperti peradangan pada paru-paru yang berkembang dalam jangka Panjang (PPOK) atau fibrosis paru . 

Faktor lingkungan dan pembelahan sel yang tidak normal adalah faktor terbesar terjadinya kanker paru. Genetika juga mempengaruhi kanker paru, namun hanya beberapa gen yang baru diketahui sebagai faktor yang mempengaruhi kanker paru.

Ada beberapa penelitian yang berusaha menghubungkan faktor genetik dan kanker dengan melibatkan anak kembar. Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa lingkungan dan gaya hidup yang sama penyebab kanker paru. Namun ada juga yang menyimpulkan faktor genetik juga berpengaruh pada kanker paru. 

Penelitian tersebut melihat dari resiko kanker paru pada 45.000 anak kembar monozigot dan heterozigot. Hasilnya adalah resiko 7.7 kali lebih besar anak kembar monozigot untuk sama-sama punya kanker paru, daripada kembar heterozigot yang memiliki kemungkinan 6.7 kali untuk sama-sama punya kanker paru. Sehingga dari berbagai percobaan ini, dapat direfleksikan bahwa terjadinya kanker paru merupakan gabungan dari faktor genetik dan lingkungan. Penjelasan spesifik mengenai dampak faktor genetik  terhadap kanker paru belum dapat dilakukan karena keterbatasan pengetahuan kita tentang genetika kanker paru. 



Referensi

Ahlbom A, Lichtenstein P, Malmström H, Feychting M, Hemminki K, Pedersen NL. Cancer in twins: Genetic and non-genetic familial risk factor. J Nat Canc Isnt. 1997;89:287–293. 

Hemminki K. Environmental and heritable factors in the causation of cancer-analyses of cohort of twins from Sweden, Denmark, and Finland. N Engl J Med. 2000;343:78–85. 

Indonesia, P. D. P. (2006). Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia.

Kanwal, M., Ding, X. J., & Cao, Y. (2017). Familial risk for lung cancer. Oncology letters, 13(2), 535-542.

Kanwal, M., Ding, X. J., & Cao, Y. (2017). Familial risk for lung cancer. Oncology letters, 13(2), 535-542.

(www.cancer.net/cancer-types/lung-cancer-small-cell/medical-illustrations).  

(www.cancer.net/cancer-types/lung-cancer-non-small-cell/statistics).

(www.gleneagles.com.sg/id/facilities-services/centre-excellence/cancer-care/lung-cancer).


Kanker Paru

Kanker paru-paru merupakan kondisi ketika sel ganas (kanker) terbentuk di paru-paru. Kanker paru sering diartikan sebagai penyakit keganasan di paru. Berdasarkan WHO, kanker paru adalah jenis kanker yang paling banyak ditemukan di laki-laki dan terbanyak kelima di wanita. Selain itu, kanker paru merupakan penyebab kematian terbanyak pada laki-laki dan kedua pada perempuan. 

Cara mengetahui apakah terdapat kanker paru-paru atau tidak adalah dengan skrining. Skrining dilakukan pada pasien risiko tinggi yaitu pasien usia 40 tahun dengan riwayat merokok ≥30 tahun dan telah berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan atau pasien ≥50 tahun dengan riwayat merokok ≥20 tahun dan adanya minimal satu faktor risiko lainnya dengan pemeriksaan low-dose CT scan. Kanker paru juga dapat dipastikan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan patologi anatomi.

Gejala klinis kanker paru tidak khas, tetapi anamnesis (komunikasi antara dokter dan pasien untuk mengetahui keluhan pasien) seperti batuk, sesak napas, atau nyeri di dada (gejala respirasi) yang tidak kunjung sembuh. Gejala klinis tersebut masuk pada “kelompok risiko” yang harus ditindaklanjuti dengan prosedur diagnosis kanker paru.

Prosedur untuk mendiagnosa kanker paru dimulai dengan foto toraks AP/lateral pada pasien yang dicurigai terkena kanker paru. CT scan toraks diperluas hingga kelenjar adrenal untuk menilai kemungkinan metastasis hingga daerah tersebut, sebagai evaluasi lanjutan.

Prosedur utama untuk menetapkan diagnosis kanker paru adalah dengan bronkoskopi. Spesimen hasil bronkoskopi digunakan untuk pemeriksaan sitologi dan histologi. Metode untuk mendapatkan hasil sitologi antara lain :

  • Metode fine needle aspiration biopsy (FNAB) sebagai metode utama. 
  • Pemeriksaan thransthoracal biopsy (TTB) yang tidak hanya untuk pemeriksaan sitologi namun juga histopatologi
  • Jika hasil negatif namun masih ada kecurigaan keganasan, maka CT scan toraks dianjurkan untuk dilakukan kembali.

Kanker paru ada 2 jenis utama yaitu kanker paru bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer-NSCLC) dan Kanker Paru Sel Kecil (Small Cell Lung Cancer-SCLC). NSCLC adalah tipe yang ada pada sebagian besar kasus kanker paru dan bersifat kurang agresif. Pasien dengan tipe kanker paru NSCLC pada stadium awal atau kankernya belum menyebar keluar dari paru, memiliki 63% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Sedangkan untuk kanker paru NSCLC yang sudah menyebar ke daerah sekitar, memiliki 35% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Terakhir, jika sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh yang jauh dari paru, maka kemungkinan hidup lebih dari 5 tahun adalah 7%.

Jenis selain Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) yaitu Small Cell Lung Cancer (SCLC). Small Cell Lung Cancer (SCLC) adalah bentuk agresif kanker paru, karena penyebaran kanker yang cepat ke bagian tubuh lainnya. Pasien dengan tipe kanker paru SCLC yang kankernya belum menyebar keluar paru, memiliki 27% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Sedangkan untuk kanker paru SCLC yang sudah menyebar ke daerah sekitar, memiliki 16% kemungkinan untuk hidup lebih dari 5 tahun. Terakhir, jika sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh yang jauh dari paru maka kemungkinan hidup lebih dari 5 tahun adalah 3%.  Penanganan NSCLC dan SCLC yaitu berupa kemoterapi, namun untuk NSCLC tidak hanya kemoterapi tetapi dapat juga dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pembedahan dan terapi radiasi.


Faktor-faktor risiko selain rokok adalah paparan radiasi, paparan terhadap bahan kimia karsinogenik, riwayat kanker pada pasien atau keluarga pasien, dan riwayat penyakit paru seperti peradangan pada paru-paru yang berkembang dalam jangka Panjang (PPOK) atau fibrosis paru . 

Faktor lingkungan dan pembelahan sel yang tidak normal adalah faktor terbesar terjadinya kanker paru. Genetika juga mempengaruhi kanker paru, namun hanya beberapa gen yang baru diketahui sebagai faktor yang mempengaruhi kanker paru.

Ada beberapa penelitian yang berusaha menghubungkan faktor genetik dan kanker dengan melibatkan anak kembar. Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa lingkungan dan gaya hidup yang sama penyebab kanker paru. Namun ada juga yang menyimpulkan faktor genetik juga berpengaruh pada kanker paru. 

Penelitian tersebut melihat dari resiko kanker paru pada 45.000 anak kembar monozigot dan heterozigot. Hasilnya adalah resiko 7.7 kali lebih besar anak kembar monozigot untuk sama-sama punya kanker paru, daripada kembar heterozigot yang memiliki kemungkinan 6.7 kali untuk sama-sama punya kanker paru. Sehingga dari berbagai percobaan ini, dapat direfleksikan bahwa terjadinya kanker paru merupakan gabungan dari faktor genetik dan lingkungan. Penjelasan spesifik mengenai dampak faktor genetik  terhadap kanker paru belum dapat dilakukan karena keterbatasan pengetahuan kita tentang genetika kanker paru. 



Referensi

Ahlbom A, Lichtenstein P, Malmström H, Feychting M, Hemminki K, Pedersen NL. Cancer in twins: Genetic and non-genetic familial risk factor. J Nat Canc Isnt. 1997;89:287–293. 

Hemminki K. Environmental and heritable factors in the causation of cancer-analyses of cohort of twins from Sweden, Denmark, and Finland. N Engl J Med. 2000;343:78–85. 

Indonesia, P. D. P. (2006). Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia.

Kanwal, M., Ding, X. J., & Cao, Y. (2017). Familial risk for lung cancer. Oncology letters, 13(2), 535-542.

Kanwal, M., Ding, X. J., & Cao, Y. (2017). Familial risk for lung cancer. Oncology letters, 13(2), 535-542.

(www.cancer.net/cancer-types/lung-cancer-small-cell/medical-illustrations).  

(www.cancer.net/cancer-types/lung-cancer-non-small-cell/statistics).

(www.gleneagles.com.sg/id/facilities-services/centre-excellence/cancer-care/lung-cancer).


BERITA TERKINI

Lihat semuaarrow
Webinar Peran SP.OG Dalam Skrining Kanker Serviks Sesuai Update Guideline HOGI

Webinar Peran SP.OG Dalam Skrining Kanker Serviks Sesuai Update Guideline HOGI

Registrasi Webinar

12-May-2022

Baca selengkapnya arrow
Kartini Cerdik :  Tips dan Trik Mengelola Keuangan

Kartini Cerdik : Tips dan Trik Mengelola Keuangan

WEBINAR SERIES: SELF LOVE, Kenali dan Cintai Diri dengan Deteksi Dini

12-Apr-2022

Baca selengkapnya arrow
Aksi Kartini untuk Bebas dari Kanker Serviks

Aksi Kartini untuk Bebas dari Kanker Serviks

Webinar Series Self Love, Kenali dan Cintai Diri dengan Deteksi Dini

11-Apr-2022

Baca selengkapnya arrow