testt-img

Leukemia Mielositik Kronik (LMK)

26-Apr-2022

Leukemia Mielositik Kronik (LMK) merupakan salah satu jenis leukemia atau kanker darah yang menyerang sel induk yang memproduksi berbagai sel dalam darah. Leukemia tipe berjalan lambat dan memiliki 3 fase yang memakan waktu tahunan sampai penderita merasakan gejalanya secara nyata. LMK memiliki pemeriksaan khusus yang mungkin  familiar terdengar bagi penderitanya, yaitu BCR-ABL.


Leukemia Mielositik Kronik (LMK)

Leukemia tipe ini secara khusus membuat induk sel yang memproduksi sel darah bergranula (sel yang memiliki bintik pada cairan selnya) tumbuh dan memproduksi diluar kendali, namun sel-sel yang diproduksi oleh sel induk ini merupakan sel immatur (tidak matang) sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. 


Kromosom Philladelphia

95% leukemia mielositik kronik terjadi akibat perubahan abnormal dalam kromosom tubuh manusia, perubahan ini menghasilkan Kromosom Philladelphia. Bila dilihat secara detail, kromosom ini merupakan hasil patahnya kromosom 22 (berisi gen BCR) dan patahnya kromosom 9 (berisi gen ABL), lalu patahan kromosom 9 menempel di kromosom 22 (disebut kromosom Philladelphia). Begitupun dengan isinya, gen BCR dan gen ABL menjadi tersambung dan memproduksi protein dengan kekuatan lebih tinggi dari normalnya.


Gen BCR-ABL ini akan memproduksi protein yang membuat sel induk bertumbuh diluar kendali dan tidak melakukan apoptosis (program bunuh diri oleh sel bila terjadi kerusakan) lalu terjadilah LMK. Pencetus dari patahnya kromosom ini disinyalir adalah radiasi tingkat tinggi, seperti pada bom atom Hiroshima dan Nagasaki, yang mana setelah pengeboman, terjadi peningkatan kejadian LMK pada korban yang selamat dari bom. Paparan terhadap benzena, sebuah senyawa kimia mudah menguap yang terkandung dalam asap rokok, uap bensin, asap kendaraan dan limbah asap industri juga kemungkinan penyebabnya.


Tahapan dan Gejala LMK

LMK memiliki 3 tahap, yaitu: fase kronik, fase akselerasi dan fase blast. 85% penderita jenis leukemia ini berada dalam fase kronik, yang mana gejalanya tidak spesifik dengan derajat keluhan sangat ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali, seperti: lesu, demam, penurunan berat badan, keringat malam, begah, rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, telinga berdengung, perdarahan, biduran dan nyeri sendi. Fase ini kurang lebih akan bertahan 5-6 tahun.


Selanjutnya, pada fase akselerasi gejala akan menjadi nyata atau memberat. Organ-organ seperti hati dan limpa terasa membesar secara nyata, nyeri pada tulang dan gejala anemia (kekurangan sel darah merah) yang semakin parah. Pada fase ini biasanya penderita sudah melakukan pemeriksaan darahnya secara lengkap dikarenakan kondisinya yang semakin memburuk, yang mana nantinya akan ditemukan kelainan pada hasil darahnya. Kelainan dapat berupa: sel darah merah dan trombosit yang turun dibawah batas normal, peningkatan sel darah putih dan ditemukan sel blast (sel tidak matang) dalam peredaran darah. Lalu pada fase blast, kondisi penderita akan semakin buruk sampai mengancam jiwa.


Pemeriksaan BCR-ABL

Sesuai dengan namanya, pemeriksaan ini secara spesifik mengenali protein BCR-ABL dalam darah, dalam kegunaannya untuk mendiagnosa LMK dan menyingkirkan diagnosis leukemia tipe lain. Pemeriksaan ini dapat menggunakan darah maupun sumsum tulang yang diambil melalui prosedur “aspirasi sumsum tulang”. Selain untuk diagnosis, BCR-ABL juga diperiksa secara berkala selama terapi dan pemantauan untuk menentukan apakah terapi berhasil atau tidak. Bila BCR-ABL tidak lagi ditemukan dalam darah dan kondisi penderita membaik, dapat dikatakan remisi molekuler.


Referensi:

1. Emadi A, Law J. Chronic Myeloid Leukemia (CML) - Hematology and Oncology - MSD Manual Professional Edition [Internet]. MSD Manual Professional Edition. 2022 [cited 13 January 2022]. Available from: https://www.msdmanuals.com/professional/hematology-and-oncology/leukemias/chronic-myeloid-leukemia-cml 

2. Besa EC, Grethlein SJ. Chronic Myeloid Leukaemian (CML) - Pathophysiology [Internet]. Medscape. 2021 [cited 14 Jan 2022]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/199425-overview#a5 

3. Austin CP. Apoptosis [Internet]. National Human Genome Research Institute. [cited 14 Jan 2022]. https://www.genome.gov/genetics-glossary/apoptosis#:~:text=Apoptosis%20is%20the%20process%20of,a%20role%20in%20preventing%20cancer 

4. BCR ABL Genetic Test [Internet]. MedlinePlus. September 2021. [cited 14 Jan 2022] https://medlineplus.gov/lab-tests/bcr-abl-genetic-test/ 

5. Martin L. Remission for Chronic Myelogenous Leukemia [Internet]. WebMD. 2022 [cited 14 January 2022]. Available from: https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/features/remission-cml-chronic-phase 


Leukemia Mielositik Kronik (LMK) merupakan salah satu jenis leukemia atau kanker darah yang menyerang sel induk yang memproduksi berbagai sel dalam darah. Leukemia tipe berjalan lambat dan memiliki 3 fase yang memakan waktu tahunan sampai penderita merasakan gejalanya secara nyata. LMK memiliki pemeriksaan khusus yang mungkin  familiar terdengar bagi penderitanya, yaitu BCR-ABL.


Leukemia Mielositik Kronik (LMK)

Leukemia tipe ini secara khusus membuat induk sel yang memproduksi sel darah bergranula (sel yang memiliki bintik pada cairan selnya) tumbuh dan memproduksi diluar kendali, namun sel-sel yang diproduksi oleh sel induk ini merupakan sel immatur (tidak matang) sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. 


Kromosom Philladelphia

95% leukemia mielositik kronik terjadi akibat perubahan abnormal dalam kromosom tubuh manusia, perubahan ini menghasilkan Kromosom Philladelphia. Bila dilihat secara detail, kromosom ini merupakan hasil patahnya kromosom 22 (berisi gen BCR) dan patahnya kromosom 9 (berisi gen ABL), lalu patahan kromosom 9 menempel di kromosom 22 (disebut kromosom Philladelphia). Begitupun dengan isinya, gen BCR dan gen ABL menjadi tersambung dan memproduksi protein dengan kekuatan lebih tinggi dari normalnya.


Gen BCR-ABL ini akan memproduksi protein yang membuat sel induk bertumbuh diluar kendali dan tidak melakukan apoptosis (program bunuh diri oleh sel bila terjadi kerusakan) lalu terjadilah LMK. Pencetus dari patahnya kromosom ini disinyalir adalah radiasi tingkat tinggi, seperti pada bom atom Hiroshima dan Nagasaki, yang mana setelah pengeboman, terjadi peningkatan kejadian LMK pada korban yang selamat dari bom. Paparan terhadap benzena, sebuah senyawa kimia mudah menguap yang terkandung dalam asap rokok, uap bensin, asap kendaraan dan limbah asap industri juga kemungkinan penyebabnya.


Tahapan dan Gejala LMK

LMK memiliki 3 tahap, yaitu: fase kronik, fase akselerasi dan fase blast. 85% penderita jenis leukemia ini berada dalam fase kronik, yang mana gejalanya tidak spesifik dengan derajat keluhan sangat ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali, seperti: lesu, demam, penurunan berat badan, keringat malam, begah, rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, telinga berdengung, perdarahan, biduran dan nyeri sendi. Fase ini kurang lebih akan bertahan 5-6 tahun.


Selanjutnya, pada fase akselerasi gejala akan menjadi nyata atau memberat. Organ-organ seperti hati dan limpa terasa membesar secara nyata, nyeri pada tulang dan gejala anemia (kekurangan sel darah merah) yang semakin parah. Pada fase ini biasanya penderita sudah melakukan pemeriksaan darahnya secara lengkap dikarenakan kondisinya yang semakin memburuk, yang mana nantinya akan ditemukan kelainan pada hasil darahnya. Kelainan dapat berupa: sel darah merah dan trombosit yang turun dibawah batas normal, peningkatan sel darah putih dan ditemukan sel blast (sel tidak matang) dalam peredaran darah. Lalu pada fase blast, kondisi penderita akan semakin buruk sampai mengancam jiwa.


Pemeriksaan BCR-ABL

Sesuai dengan namanya, pemeriksaan ini secara spesifik mengenali protein BCR-ABL dalam darah, dalam kegunaannya untuk mendiagnosa LMK dan menyingkirkan diagnosis leukemia tipe lain. Pemeriksaan ini dapat menggunakan darah maupun sumsum tulang yang diambil melalui prosedur “aspirasi sumsum tulang”. Selain untuk diagnosis, BCR-ABL juga diperiksa secara berkala selama terapi dan pemantauan untuk menentukan apakah terapi berhasil atau tidak. Bila BCR-ABL tidak lagi ditemukan dalam darah dan kondisi penderita membaik, dapat dikatakan remisi molekuler.


Referensi:

1. Emadi A, Law J. Chronic Myeloid Leukemia (CML) - Hematology and Oncology - MSD Manual Professional Edition [Internet]. MSD Manual Professional Edition. 2022 [cited 13 January 2022]. Available from: https://www.msdmanuals.com/professional/hematology-and-oncology/leukemias/chronic-myeloid-leukemia-cml 

2. Besa EC, Grethlein SJ. Chronic Myeloid Leukaemian (CML) - Pathophysiology [Internet]. Medscape. 2021 [cited 14 Jan 2022]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/199425-overview#a5 

3. Austin CP. Apoptosis [Internet]. National Human Genome Research Institute. [cited 14 Jan 2022]. https://www.genome.gov/genetics-glossary/apoptosis#:~:text=Apoptosis%20is%20the%20process%20of,a%20role%20in%20preventing%20cancer 

4. BCR ABL Genetic Test [Internet]. MedlinePlus. September 2021. [cited 14 Jan 2022] https://medlineplus.gov/lab-tests/bcr-abl-genetic-test/ 

5. Martin L. Remission for Chronic Myelogenous Leukemia [Internet]. WebMD. 2022 [cited 14 January 2022]. Available from: https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/features/remission-cml-chronic-phase 


Halaman

Show all

arrow

BERITA TERKINI

Lihat semuaarrow
Webinar Peran SP.OG Dalam Skrining Kanker Serviks Sesuai Update Guideline HOGI

Webinar Peran SP.OG Dalam Skrining Kanker Serviks Sesuai Update Guideline HOGI

Registrasi Webinar

12-May-2022

Baca selengkapnya arrow
Kartini Cerdik :  Tips dan Trik Mengelola Keuangan

Kartini Cerdik : Tips dan Trik Mengelola Keuangan

WEBINAR SERIES: SELF LOVE, Kenali dan Cintai Diri dengan Deteksi Dini

12-Apr-2022

Baca selengkapnya arrow
Aksi Kartini untuk Bebas dari Kanker Serviks

Aksi Kartini untuk Bebas dari Kanker Serviks

Webinar Series Self Love, Kenali dan Cintai Diri dengan Deteksi Dini

11-Apr-2022

Baca selengkapnya arrow